• Masalah
  • Kuatir
  • Sedih
  • Bimbang

KELOMPOK SABDA

Ayat TepatPenuntun bersikap, berelasi, dan saat berbeban
Pilihan ▾
Renungan Perenungan kebenaran Firman TUHAN
Pilihan▾
Pendamping Baca & Ingat FirmanBaca Alkitab dan latih ingat Firman TUHAN
Pilihan ▾

KELOMPOK IMAN

Kebenaran Alkitab Sajikan pengajaran Alkitab dari berbagai konteks.
Pilihan ▾
Teguh Iman Kajian cermat terhadap topik dan isu pilihan.
Pilihan ▾
Kuat Iman Kisah dan peristiwa yang kuatkan iman
Pilihan ▾
KrisMeter Alat bantu periksa kondisi diri dalam beriman secara berkala.

KELOMPOK PENDUKUNG

Sumber InformasiKumpulan daftar literasi dan wawasan penunjang pelayanan.
Pilihan ▾
RagamAsah pengetahuan Alkitab yang menyegarkan untuk waktu santai.
Pilihan ▾
Kembali ke Atas ↑ 💝 APRESIASI

TT1: Perpuluhan Kristen Miskin

Ilustrasi Persepuluhan
🔊 Hikmat Suara: Dengarkan ulasan ini dibacakan.

Haruskah Kristen Miskin Persepuluhan?

"Orang Kristen harus setia persepuluhan, sebagai tanpa beriman !" begitu gema "hukum" yang umum didengar di tengah gereja. Akan bagi umat Kristiani yang sedang mengalami masa-masa sangat sulit—bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun terasa berat, bagaimana? Persoalan mengenai persembahan persepuluhan sering kali jadi beban pikiran yang menghimpit. Apakah TUHAN menuntut kita tetap memberi di tengah kekurangan? Mari mencermati prinsip Alkitab ini dengan jernih and tenang.

Satu hal prinsip yang harus dipegang teguh: TUHAN kita bukanlah sosok yang kejam; Ia adalah Bapa yang penuh kasih.

1. Sejarah Perpuluhan: Melatih Hati Sejak Awal

Banyak orang mengira kewajiban perpuluhan baru dimulai sejak hukum Taurat Musa tertulis. Sebenarnya, praktik ini sudah ada jauh sebelumnya.

Tengoklah peristiwa ketika Abraham bertemu dengan Melkisedek (Kejadian 14). Abraham memberikan sepersepuluh dari segalanya bukan karena perintah hukum yang kaku, melainkan sebagai ungkapan syukur sukarela atas kemenangan dan berkat perlindungan yang telah TUHAN berikan.

Sejak awal, persentase sepersepuluh (10%) adalah metode yang TUHAN gunakan untuk melatih hati manusia. Ini adalah sarana bagi kita untuk belajar memberi yang terbaik, sekaligus mengakui dengan rendah hati bahwa segala sesuatu yang kita miliki pada dasarnya berasal dari Dia.

2. Cara Pandang Baru di Era Perjanjian Baru

Ayat dalam Maleakhi 3:10 tentang perintah "membawa seluruh persembahan perpuluhan ke rumah perbendaharaan" kerap dianggap sebagai aturan Perjanjian Lama yang kaku. Namun, bagaimana TUHAN Yesus memandang hukum ini?

Yesus menyatakan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk melengkapinya (Matius 5:17). "Melengkapi" di sini berarti menaikkan standarnya: dari sekadar hitungan angka di atas kertas, naik kelas menjadi masalah ketulusan hati. Di dalam Perjanjian Baru, penekanan utamanya bukan lagi pada legalitas angka "harus pas 10%", melainkan esensi untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi TUHAN.

3. Belajar dari Ketulusan Janda Miskin

Dalam Markus 12:41-44, Yesus secara khusus mengamati orang-orang yang membawa persembahan di Bait Allah. Orang-orang kaya memberi dari kelimpahan mereka, sementara seorang janda miskin maju dan memasukkan dua peser—jumlah yang sangat kecil bagi pandangan manusia.

Menariknya, Yesus justru menilai janda ini memberi jauh lebih banyak dari semua orang. Mengapa? Karena ia memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya.

"Satu-satunya aturan aman dalam memberi persembahan adalah dengan memberi lebih banyak dari apa yang mampu kita sisihkan secara logis... Ukuran kemurahan hati kita didasarkan pada seberapa besar tingkat pengorbanan kita di dalam kepercayaan kepada TUHAN."

— Markus 12:44

4. Perpuluhan Sebagai Latihan Iman

Pada akhirnya, perpuluhan sebetulnya adalah sebuah latihan dasar. TUHAN sama sekali tidak membutuhkan uang kita. Memberi perpuluhan adalah cara kita mendisiplinkan diri dalam mengelola sebagian kecil dari apa yang kita miliki. Dari latihan kecil ini, TUHAN sedang mendidik iman kita untuk naik ke level yang lebih tinggi, yaitu menyerahkan seluruh kehidupan kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada TUHAN (Roma 12:1).

Perspektif Teologis

"Satu-satunya aturan aman dalam memberi persembahan adalah dengan memberi lebih banyak dari apa yang mampu kita sisihkan secara logis... Ukuran kemurahan hati kita didasarkan pada seberapa besar tingkat pengorbanan kita di dalam kepercayaan kepada TUHAN."

C.S. Lewis, dalam ulasan etika memberi Kristen (Mere Christianity).

5. TUHAN Menghargai Kerelaan Hati

Bagi Anda yang saat ini jangankan untuk memberi perpuluhan, untuk makan esok hari pun sedang bergumul keras: ingatlah pesan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 9:7. Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab TUHAN mengasihi orang yang memberi dengan gembira.

Jika seseorang terpaksa memberi perpuluhan hingga membuat keluarganya kelaparan atau dipenuhi rasa menggerutu, maka esensi ibadah dari pemberian tersebut justru telah hilang. TUHAN tidak pernah menghendaki persembahan yang lahir dari rasa takut, intimidasi, atau keterpaksaan.


Kesimpulan

TUHAN kita adalah TUHAN yang Mahatahu dan TUHAN tidak pernah berutang kepada siapa pun. Jika kondisi ekonomi Anda saat ini benar-benar habis, jangan pernah merasa sedang dihukum atau dikutuk. TUHAN melihat kedalaman hati Anda. Anda tetap bisa memberikan apa yang ada pada Anda dengan rela. Kelak ketika keadaan ekonomi dipulihkan oleh-Nya, mulailah belajar memberi kembali sebagai bentuk rasa syukur dan kasih kepada TUHAN yang memelihara hidup Anda.

*Dwi Ariefin adalah seorang Pendeta di gereja Baptis yang berpengalaman menggembalakan di beberapa jemaat. Telaah ini disusun khusus sebagai tanggapan pastoral atas pertanyaan dan pergumulan yang disampaikan oleh salah seorang jemaat.

Rujukan Studi
  • Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Alkitab Terjemahan Baru (TB) — Referensi Teks: Kejadian 14, Matius 5:17, Markus 12:41-44, Roma 12:1, 2 Korintus 9:7.
  • Lewis, C.S. (1952). Mere Christianity. London: Collins.
  • Stott, John. (2006). The Radical Disciple. InterVarsity Press.
💝 DUKUNGAN