DOA-005: Jangan Berdoa dengan Memaksa
Doa bukanlah sarana untuk mendikte kehendak Allah melainkan media penyerahan diri. Sikap memaksakan keinginan serta mendesak pemenuhan waktu pribadi menunjukkan kurangnya rasa percaya pada kedaulatan-Nya. Ketenteraman rohaniah sejati ditemukan saat permohonan diselaraskan dengan kedaulatan serta ketetapan waktu milik Bapa.
Terkadang, desakan kebutuhan hidup yang terasa amat mendesak membuat seseorang membawa permohonan ke hadapan Tuhan dengan sikap menuntut. Ada kecenderungan untuk memaksakan agar jawaban yang diterima harus persis seperti yang rancangan manusia.
1 Yohanes 5:14 — Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. — 1 Yohanes 5:14
Sikap memaksakan kehendak di dalam doa mencerminkan ketidaksabaran batin. Ketika tuntutan pribadi dijadikan focus utama, pendoa rentan melupakan bahwa Allah adalah Bapa yang Maha Tahu, bukan pelaksana rencana manusia. Kedewasaan rohaniah diuji ketika permohonan yang diajukan bersedia ditundukkan di bawah sauh iman yang kokoh, yakni percaya penuh pada hikmat-Nya yang sempurna.
Teladan agung dari Kristus di taman Getsemani mengajarkan bahwa sekalipun cawan penderitaan terasa berat, ucapan yang keluar adalah penyerahan penuh kepada kehendak Bapa. Keyakinan rohaniah yang sejati tidak berfokus pada kediktatoran keinginan manusia, melainkan pada kebaikan rencana Allah yang tidak pernah keliru membawa berkat bagi umat-Nya.
Menyelaraskan Keinginan dengan Rencana Illahi
Cara melatih diri agar tidak terjebak dalam doa yang memaksa adalah dengan menutup setiap rangkaian doa menggunakan pengakuan iman yang tulus akan kedaulatan Tuhan. Izinkan hati menerima kepastian bahwa penundaan atau bentuk jawaban yang berbeda dari Allah selalu didasari oleh rancangan masa depan yang penuh dengan damai sejahtera.
Ingin memiliki buku"Jangan Berdoa,.."
Matius 26:39; 1 Yohanes 5:14; Yeremia 29:11; Lukas 22:42.





Komentar
Posting Komentar