DOA-001: Jangan Berdoa dengan Ragu
Ragu adalah musuh tersembunyi di dalam doa. Berdoa dengan keraguan mencerminkan ketidakpastian akan kuasa Allah dan ketidaksiapan diri dalam menerima jawaban-Nya. Untuk membangun persekutuan yang hidup dengan Tuhan, setiap keraguan harus disingkirkan dan digantikan oleh penyerahan total yang percaya bahwa Dia sanggup dan setia melakukan perkataan-Nya.
Sering kali takhta hadirat Tuhan dihampiri membawa rangkaian permohonan, namun jauh di lubuk hati terkecil, terselip sebuah tembok penghalang yang tidak kasat mata: keraguan.
Yakobus 1:6 — Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. — Yakobus 1:6
Ragu adalah ketidakpastian. Di satu sisi memohon, di sisi lain mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar mendengarkan. Sikap batin yang mendua seperti itu melemahkan dasar dari sebuah doa. Ketika ragu menguasai pikiran, itu artinya sedang membatasi pandangan hanya sebatas kesanggupan manusia, bukan kesanggupan Allah yang tidak terbatas.
Naskah kebenaran telah mengingatkan bahwa orang yang ragu-ragu serupa dengan gelombang laut yang diombang-ambingkan oleh angin. Orang yang demikian tidak akan tenang dalam jalannya. Oleh sebab itu, saat lutut bertelut, ambillah keputusan iman untuk mempercayai karakter Allah sebagai Bapa yang baik, yang tahu memberi yang terbaik pada waktu-Nya.
Menyingkirkan Keraguan dalam Praktik Doa
Bagaimana bisa terbebas dari jerat keraguan? Langkah pertama adalah menyadari bahwa doa bukan sebuah spekulasi atau untung-untungan. Doa adalah jalinan relasi anak dengan Bapanya. Landaskan permohonan pada janji firman-Nya yang tertulis, karena firman Tuhan adalah penopang iman yang paling kokoh saat perasaan mulai goyah.
Ingin memiliki buku"Jangan Berdoa,.."
Yakobus 1:6-8; Matius 21:21; Markus 11:23; Ibrani 11:6.





Komentar
Posting Komentar